Sunday, July 8, 2007

Pilkada Kabupaten Pasaman Trah Tuanku Imam Bonjol atau Tuanku Rao?

12 April 2005
(Media) - Kabupaten Pasaman terletak di wilayah paling utara Sumatra Barat (Sumbar). Daerah ini dilintasi garis khatulistiwa, tepatnya di Bonjol, daerah asal pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol.

Secara geografis, Pasaman tepatnya terletak pada 0,55 derajat Lintang Utara sampai dengan 0,11 derajat Lintang Selatan dan 99,55 derajat Bujur Timur sampai dengan 100, 21 derajat Bujur Timur.

Menurut sejarahnya, nama Pasaman berasal dari kata pasamoan yang berarti kesepakatan atau kesamaan. Kesepakatan yang dimaksud ialah antargolongan etnis penduduk yang mendiami wilayah tersebut.

Kabupaten ini memang didiami tiga etnis, yakni Minangkabau, Mandahiling, dan Jawa. Semenjak dimekarkan pada 2003 lalu, yang memisahkan Pasaman Barat dari Kabupaten Pasaman, dua etnis yang menonjol di kabupaten ini tinggal Minang dan Mandahiling. Karena, orang Jawa memang banyak berada di Pasaman Barat.

Hidup harmonis ratusan tahun bersama, kedua etnis yang berbeda budaya tersebut tak pernah bentrok. Bahkan, dalam keseharian budaya Minang dengan Mandahiling sudah saling membaur.

Di Kecamatan Duo Koto, misalnya, akan ditemui nama-nama marga yang sama dengan marga Mandahiling lainnya, seperti Batubara, Pulungan, Lubis, dan lainnya. "Tapi, mereka tidak patrilineal seperti halnya tradisi Mandahiling. Marga anak di sana mengikuti marga ibunya. Matrilineal seperti halnya di Minangkabau," kata Ketua KPUD Pasaman Willi Admiral.

Hal ini, antara lain karena di antara dua etnis tersebut banyak terjadi asimilasi melalui jalur pernikahan. Tidak adanya dikotomi soal Minang-Mandahiling, yang tegas selama ini dalam kehidupan sosial masyarakat setempat, menurut Willi, merupakan modal positif untuk memilih kepala daerah. Karena, masyarakat akan memilih sesuai dengan kemampuan dan integritas calon, bukan karena 'alasan buta' primordialisme.

Walau sudah ada pembaruan, sesungguhnya, kedua etnis masing-masing juga masih mempertahankan identitas. Setidaknya itu dilihat dari bahasa ibu yang digunakan.
Etnis Minang memakai bahasa Minang, demikian juga Mandahiling. Namun, bagi mereka yang 'gaul' biasanya menguasai kedua bahasa tersebut, dari mana pun asalnya.
Etnis Mandahiling mayoritas tinggal di bagian utara Pasaman. Mereka rata-rata menempati Kecamatan Duo Koto, Panti, Rao, Rao Utara, dan Rao Selatan. Jumlah mereka hampir sebanding dengan etnis Minang di wilayah tersebut.

Di wilayah ini, kedua etnis sudah menyatu dan merasa sebagai 'Orang Utara'. Sementara, di bagian selatan seperti di Kecamatan Lubuk Sikaping, Tiga Nagari, dan Bonjol, mayoritas penduduknya ialah etnis Minang. Mereka kemudian juga mengerucut menjadi 'Orang Selatan'.

Dikotomi Selatan-Utara tersebut, kini muncul (atau dimunculkan) ke permukaan oleh para 'pekerja politik' di Pasaman. Apalagi kalau bukan karena akan diadakannya pemilihan bupati di sana pada 27 Juni nanti.

Sesuai data pencalonan, Willi Admiral mengatakan, hingga ditutup pendaftaran pada 27 Juni lalu, sudah mendaftar tiga pasang calon ke KPU Pasaman. Mereka adalah pasangan AKBP Yusuf Lubis sebagai calon bupati (cabup) dan Hamdy Burhan Datuk Bagindo sebagai calon wakil bupati (cawabup). Keduanya diusung oleh partai-partai yang memiliki kursi di DPRD Pasaman, yakni PAN 4 kursi, PKPB 3, PKS 2, PKB 2, PDIP 1, PBB 1, dan Partai Merdeka 1 kursi. Total koalisi tersebut sebanyak 14 kursi.

Pasangan kedua diusung oleh PPP yang memperoleh 5 kursi di DPRD Pasaman, yakni Sekdako Bukittinggi Khairul sebagai cabup dengan pasangannya, Hj Rahanum (notaris) sebagai cawabup.

Sementara Partai Golkar sebagai pemenang pemilu di Pasaman dengan perolehan 10 kursi bersama PKP Indonesia (1 kursi) mengusung Ketua DPD Partai Golkar Pasaman Benny Utama yang sebelumnya menjabat Wakil Bupati Pasaman bersama Letkol CAJ Buyung Nurlan Tanjung sebagai cawabup.

Jika berpedoman kepada hasil pemilu legislatif pada 2004 lalu, maka yang paling berpeluang adalah pasangan Benny Utama-Buyung Nurlan yang menggabungkan Partai Golkar, PKP Indonesia, serta 9 partai lainnya. Total perolehan suara koalisi ini pada pemilu legislatif sekitar 44 ribu (43,56%).

Pasangan ini ditempel ketat Yusuf Lubis-Hamdy Burhan yang dicalonkan tujuh partai dengan perolehan suara sekitar 40 ribu (39,60%). Sisanya, baru diambil oleh pasangan yang dicalonkan PPP, Khairul-Rahanum.

Apakah hitungan di atas kertas itu dalam realitasnya sama saat pilkada dilangsungkan?
Bisa jadi ya atau tidak. Ya, jika Partai Golkar setempat bisa mengulang sukses mereka pada pilpres pertama memenangkan calon Partai Golkar Wiranto.

Berbeda dengan daerah lain di Sumbar yang dikuasai Amien Rais, di Pasaman, Wiranto memang menang dengan 38,15%, mengungguli Amien yang memperoleh 29,03% dan Susilo Bambang Yudhoyono 21,39% dari total sekitar 100 ribu suara sah.

Jika Partai Golkar kembali menggerakkan mesin politiknya seperti dalam hal pilpres pertama, Benny bisa melenggang mulus ke kursi bupati. Apalagi, selama menjadi wakil bupati, tokoh asal Lubuk Sikaping (wilayah selatan), Kabupaten Pasaman, tersebut sudah amat dikenal oleh masyarakat Pasaman. Benny memang rajin turun ke bawah, dekat dengan masyarakat Pasaman.

Tapi, tunggu dulu. Yusuf Lubis yang masih menjabat Kapolresta Padang Panjang, Sumbar, tersebut berasal dari Rao (wilayah utara) Kabupaten Pasaman. Seiring munculnya dikotomi Utara-Selatan tersebut, Yusuf harus diperhitungkan.

Karena, dialah satu-satunya cabup dari wilayah utara yang memiliki potensi pemilih sebesar 60%. Sedangkan Benny harus berebut dengan Khairul di selatan yang hanya memiliki potensi 40% pemilih.

Persoalannya, apa masyarakat mau dikotak-kotak dengan dikotomi Utara-Selatan yang selama ini kurang populer tersebut? Toh, masing-masing pasangan juga amat menghargai daerah yang berbeda dengan mereka.

Buktinya, Yusuf dari Utara, memilih Hamdy sebagai wabup dari Bonjol (Selatan). Benny dari Selatan memilih Buyung dari Kecamatan Panti (Utara) sebagai cawabup. Demikian juga Khairul dari Selatan memilih cawabup Rahanum dari Rao (Utara).

Wacana Utara-Selatan itu tadi memang gencar menjadi bahan isu para politikus. Selatan dilambangkan sebagai Tuanku Imam Bonjol, sementara Utara dilambangkan dengan Tuanku Rao.

Sekadar menengok ke belakang, semasa hidup, Tuanku Imam Bonjol memang memusatkan perjuangannya di Bonjol (sekarang Kecamatan Bonjol), Pasaman Selatan. Sementara Tuanku Rao, salah seorang panglima perang Tuanku Imam Bonjol, ditugaskan untuk memimpin perjuangan di Rao, di Pasaman bagian utara.

Tuanku Rao diakui oleh orang Minang sebagai 'urang awak', sementara etnis Mandahiling pun mengklaim panglima tersebut sebagai kerabat Raja Sisingamangaraja. Artinya, Tuanku Rao memang menjadi simbol kesatuan orang Utara.

Kini, mereka menyusun kekuatan agar 'Tuanku Rao' bisa menang agar tak selalu 'Tuanku Imam Bonjol' yang memerintah.

Budayawan Sumbar asal Pasaman, Eddy Utama, kepada Media mengakui adanya upaya untuk menegaskan Utara-Selatan, bahkan juga berkembang menjadi kesadaran untuk mempertegas geokultural Minang-Mandahiling.

"Budaya Minang dan Mandahiling di Pasaman selama ini tak menonjol sebagai sebuah perbedaan. Namun, dalam kondisi terakhir memang ada kesadaran untuk mempertegas geokultural itu," kata mantan Ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB) tersebut.
Selagi itu tidak berlebihan, menurutnya sah-sah saja. Tapi, Eddy yang biasa dipanggil Bung mengingatkan, di tingkat pendukung dan tim sukses para calon, ini jangan dibiarkan berkembang menjadi tajam dan malah akan mengakibatkan konflik horizontal.

Apa pun slogan dan isunya, asal masih dalam koridor hukum dan etika, sah saja. Namun, yang lebih penting apa yang harus dilakukan bupati terpilih nanti.
"Potensi pertanian, perikanan di daerah ini belum maksimal dikembangkan. Demikian juga dengan perkebunan rakyat yang banyak terdapat di daerah ini. Hal lain, pentingnya untuk memperlebar jalan lintas Sumatra di sepanjang Kabupaten Pasaman," kata Bung.

Jalan yang kecil, selama ini, menghambat akses jalan antara kota-kota besar di provinsi lain seperti Medan dan Pekanbaru yang melalui Pasaman. Jika infrastruktur seperti jalan belum layak, menurut Bung, amat susah untuk mulai membangun industri.

Hendra Makmur/P-4
Sumber: http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005041201285216

No comments:

Post a Comment