Friday, July 13, 2007

Madina dan Hidup yang Dicukup-cukupkan


Panggetek di Batang Gadis
Foto Arbain Rambey

Madina dan Hidup yang Dicukup-cukupkan
Wajah Gusnan (43) terlihat lusuh. Sekujur badannya berkeringat. Siang itu ia memang cukup sibuk bercengkrama dengan Sungai Batang Gadis yang mengalir deras. Ia lalu mengusap keringatnya yang mengalir ke pipinya. Sambil mengepulkan asap rokok dari bibirnya, ia pun bercerita tentang kegelisahannya bersama penarik getek lainnya di sungai yang membelah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) itu.

“Hari ini biasa saja,” katanya. Memang menjadi penarik getek itu susah, katanya lagi. Tapi setidaknya dapat menopang sedikit keperluan keluarga. Ada tiga penarik getek siang itu yang bertugas setiap harinya. Dari situ mereka bisa mengantongi uang untuk dibawa pulang. “Kadang-kadang banyak, lebih sering sedikit. Kalau dirata-ratakan sehari bisa dapat Rp 50.000-an. Itu pun tidak semuanya untuk kami. Sebab setiap bulan sebagian uang akan disetor ke kas desa untuk pemabanguan mesjid,” katanya.

Ia dan 15 panggetek lainnya bertugas bergantian. Setelah setahun genap “menjabat”, mereka pun harus siap digantikan oleh calon panggetek-panggetek lainnya yang telah ditentukan oleh kepala desa. “Hingga akhirnya nanti semua warga desa dapat giliran, baik anak muda maupun orang tua, saling bergantian sepanjang tahun,” jelasnya.

Tidak sepenuhnya mereka bergantung dari getek itu. Gusnan sendiri, selain menjadi “panggetek”, ia juga bertani. Lahannya sedikit, hanya 4 “bumbun”. Sedang 4 orang anaknya masih bersekolah. Ia lalu memaparkan alasannya mengapa ia menjadi penarik getek. “Tahun lalu, semua lahan saya amblas di serang tikus, rugi jadinya. Tapi, mudah-mudahan tahun ini tidak terulang lagi,” katanya. Tapi inilah yang kini membuatnya cemas. “ Sebab sebagian petani sudah mulai mengeluhkan sawahnya yang rusak diserang tikus lagi.,” katanya.

Beda pula dengan Ali Amin Pulungan (37). Selain menjadi panggetek, segala pekerjaan pun ia lakukan termasuk sebagai kuli bangunan. ”Sebab sebenarnya saya tidak bisa berharap sepenuhnya dari penghasilan getek ini,” katanya. Anak Ali dua orang, sedang istrinya bertani di sawah.

“Akhir-akhir ini memang lagi susah. Dari sawah rugi dari getek pun penghasilannya hanya sedikit. Bayangkan, sepertinya tikus-tikus di desa kami (Desa Pasar Huta Bargot Kecamatan Panyabungan Utara) kian merajalela. Hampir semua ladang diserang. Bahkan, ladang Pak Kepala Desa pun juga ikut dilibas,” katanya.

Di seberang dipan bambu yang sedikit tergenang air sungai itu, tampak bangunan setengah jadi yaitu pondasi jembatan (Jembatan Aek Godang) yang nantinya diharapkan menjadi sarana penghubung antara Desa Hadian Jior menuju Desa Pasar Huta Bargot menggantikan transportasi getek yang sudah puluhan tahun dipergunakan.

Pembangunannya sudah dimulai awal 2003. Meski belum diketahui kapan jembatan itu akan mulai dioperasikan, namun rupa-rupanya penarik getek itu sudah tampak cemas.
“Kami hanya belum siap mencari alternatif lain untuk mengisi pekerjaan sampingan kami nanti jika jemabatan sudah selesai dibangun,”ujar Gusnan. Jadi bagaimana? “Paling-paling kembali bertani. Saya sendiri menggarap lahan sawah milik orang lain. Hasilnya menunggu panen. Jika jembatan itu nanti sudah selesai dibangun dan jadwal menarik getek ditiadakan, terpaksa menganggur sambil nunggu objekan lain,” katanya cemas. Demikian halnya dengan Suaib Pulungan (33). Laki-laki beranak tiga ini tak banyak berkomentar. Ia mengakui pernyataan kedua rekannya piketnya hari itu.

Untuk tarif getek penumpang getek sebenarnya tidak terlalu mahal. “Sepeda motor, becak dan penumpang umum tarifnya Rp 1.000. Sedangkan anak sekolah tidak diberi tarif wajib. Biasanya gratis,” ujar Suaib. Sehari bisa dapat Rp 200 ribu pada hari pekan atau hari raya. “Tapi kalau buntung, ya enggak untung alias tidak bergaji,” kata mereka tertawa. Lalu bagaimana membiayai hidup sehari-hari, termasuk biaya sekolah anak-anak, makanan sehari-hari dan keperluan lainnya? Mereka pun menjawab dengan enteng: ”Ya, dicukup-cukupkan.”

Berkah dari balik bukit
Pukul 08.00 pagi Hasairin Lubis (48) sudah bergumul dengan air Sungai Batang Gadis yang alirannya sampai ke Desa Sabah Pasir Kecamatan Kota Nopan di mana ia akan menghabiskan harinya bekerja. Bermodalkan jerigen dan sekop, laki-laki beranak tujuh ini pun mulai mengais rezeki di sungai yang tepat di alas kaki Bukit Barisan itu.
“Letih,” ucapnya menyapa kami ketika kami menjumpainya di sela-sela istirahatnya. Hari itu, menjelang sore, ia hanya berhasil mengangakat pasir 1 m3 lebih sedikit dan kerikil 0,5 m3. Maklum, akhir-akhir ini memang sering hujan sehingga debit air naik dan menghalangi penggalian, katanya.

Pasir dan kerikil hasil galiannya sore itu lalu ia kumpulkan dengan hasil galiannya beberapa hari sebelumnya yang sudah menumpuk di bantaran. Sambil mengisap rokoknya ia pun duduk santai di sebuah gubuk kecil menghadap sungai, menunggu pembeli datang dan uangnya bisa dibawa pulang untuk keluarga nanti. Tapi, biasanya pasir dan kerikil dijual melalui perantara. Perantaranya adalah pemilik kedai kopi yang tak jauh dari sungai. Pemilik kedai lalu memberi tahu bila mana ada pemborong yang membutuhkan pasir dan kerikil dalam jumlah besar. “Maka kami pun mengumpulkannya bersama penggali-penggali lainnya,” kata Hasairin.

Inilah kisah mereka. Barangkali kehidupan yang sederhana sekali pun bukan berarti akhir dari segala-galanya. Tapi sesungguhnya, merekalah pejuang hidup yang sebenarnya.

“Hari ini pasir saya hanya terjual 1 m3 dan kerikil ¼ m3. Uangnya Rp 20 ribu untuk dibawa pulang,” katanya. Meski demikian, Hasairin tetap tersenyum. “Besok bisa saja lebih, sebab pasir dan kerikil saya ada sisa. Mungkin saja besok terjual semua,” cetusnya tersenyum. Ia tidak sendirian. Bersama istrinya yang bekerja sebagai petani, mereka pun mencukup-cukupkan uangnya untuk membiayai 3 lagi anaknya yang masih sekolah.

Sore itu di seberang sungai yang mengalir deras, terlihat 3 perempuan sedang asyik dengan sebidang tampi kecil di tangannya. Tak salah lagi, mereka adalah penambang emas. Sayangnya, kami tidak sempat berbicara dengan mereka akibat suara debur air. Untungnya, beberapa penambang pasir di sekitar sungai tahu persis dengan kisah mereka. “Mereka adalah penambang emas yang tinggal di desa seberang. Setiap hari ke sini,” kata Soptu (35) seorang dari mereka.

Menurut cerita orang-orang setempat, emas itu dijual setiap minggunya ke pekan 1/3 dari harga standar pasar. “Misalnya, jika harga emas 24 karat/gram Rp 25 ribu, maka meraka akan mendapatkan harga 1/3-nya dalam setiap gram,” ujar Hasairin.
Inilah kisah mereka. Barangkali kehidupan yang sederhana sekali pun bukan berarti akhir dari segala-galanya. Tapi sesungguhnya, merekalah pejuang hidup yang sebenarnya.

Tonggo Simangunsong
http://tonggo.wordpress.com/2007/03/07/madina-dan-hidup-yang-dicukup-cukupkan/

No comments:

Post a Comment